Minggu, 15 Desember 2013

 Profil Suparto Brata 
 

Suprapto Brata (lahir di Surabaya, 23 Februari 1932) adalah sastrawan berbahasa Jawa dan juga Indonesia. Sastrawan ini terhitung produktif menerbitkan buku fiksi berbahasa Jawa. Pada mulanya ia menulis fiksi dengan bahasa Indonesia yang dimuat di Majalah Garuda, 25 Oktober 1953 dengan cerpen "Miss Rika di Angkasa".
Karier sastra Jawanya bermula dari tulisan-tulisannya di Majalah Panjebar Semangat, Surabaya. Majalah berbahasa Jawa ini juga memberinya anugerah saat sayembara penulisan Cerita bersambung pada tahun 1959. Cerita bersambung itu kemudian dibukukan dalam bentuk novel yang berjudul Lara Lapane Kaum Republik. Novel ini kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Suparto sendiri menjadi Kaum Republik.
Dalam menulis, acap kali ia menggunakan nama samaran, di antaranya Peni dan Eling Jatmiko. Berkat kegigihannya, ia pernah mendapat penghargaan Hadiah Sastera Rancagé tiga kali.
Novel dan kumpulan cerpen Jawa yang pernah ia tulis di antaranya:

 
1. Emprit Abuntut Bedhug


2. Kadurakan ing Kidul Dringu

3. Katresnan kang Angker
4. Asmarani
5.Pethite Nyai Blorong
6.Nyawa 28
7. Tretes Tintrim
8. Lara Lapane Kaum Republik
 9.Sanja Sangu Trembela
10. Lintang Pa
11. Tanpa Tlacak
12. njer Sore
13. Jaring Kalamangga
14. Kamar Sandi
15. Garuda Putih
16. Nglacak Ilange Sedulur Ipe
18. Ngingu Kutuk ing Suwakan
19. Donyane Wong Culika 
20. Lelakone Si lan Man

NASI GROMBYANG (makanan khas pemalang)

  Nasi grombyang adalah sejenis nasi campur yang merupakan makanan khas dari masyarakat Pemalang, Jawa Tengah. Nama makanan ini berasal dari bentuk penyajiannya, yaitu antara isi dan kuah lebih banyak kuahnya sehingga kelihatan bergoyang-goyang (bahasa Jawa: grombyang-grombyang, artinya "bergoyang-goyang").
Ramuan nasi grombyang terdiri dari nasi, irisan daging kerbau dan kuah, disajikan dalam mangkuk kecil dan dilengkapi dengan sate kerbau. Ciri khas lainnya dari nasi grombyang terletak pada tempat jualannya yang berupa kuali besar, tempat nasi ditutupi dengan kain merah, diserta penerangan remang-remang lampu templok. Pembeli menikmati hidangan dengan duduk di kursi kecil pendek (dingklik).
Tidak diketahui dengan pasti kapan makanan khas ini mulai diciptakan. Namun menurut penuturan para orang tua di Pemalang, makanan khas nasi grombyang sudah ada sejak tahun 1960-an. Pada waktu itu penjual nasi grombyang menjual dagangannya secara tidak menetap, tetapi berkeliling kampung. Penjual nasi grombyang yang terkenal antara lain H. Warso di Jl. R.E. Martadinata di dekat alun-alun, serta H. Waridin di Sirandu dekat bekas terminal lama Pemalang.

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Nasi_grombyang